Puncak Cikurai


21 Juni 2013, 8 Anggota Muda GPA CHEBY 36 sibuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mendaki gunung CIkurai Jawa Barat. Persiapan logistic, tenda, perlengkapan masak dan tentunya uang disiapkan sematang mungkin agar perjalanan kali ini berjalan lancar.

Bismillahirrahmannirrahim!

Pukul 20.30 kami mulai bergerak dari halte Bidara Cina, Jakarta Timur menuju ke terminal Kampung Rambutan mencari bus jurusan Garut. Karena terjadi beberapa hal diluar perkiraan, kami tiba di terminal Kampung Rambutan pukul 23.45. Alhamdulillah, setelah menunggu kira-kira 30 menit, bus yang kami tunggu-tunggu muncul. Tanpa ba-bi-bu kami langsung naik dan mencari tempat yang PW buat tidur. Dengan membayar 40.000 per orang, kami dengan nyamannya tidur dalam bus ekonomi AC, tak perlu berdesak-desakan, juga tak banyak asongan maupun pengamen mondar-mandir.
Puluk 04.30 kami tiba di terminal bus Guntur, Garut. Gelap masih menyelimuti terminal, akan tetapi adzan Subuh memecah kebutaan pagi itu dengan lantunan merdunya. Kami pun langsung bergegas menuju masjid terdekat. Tak jauh dari terminal, masjid yang kami tuju terletak tepat di depan terminal Guntur, lumayan besar dan bersih. Cocok untuk beribadah sambil melepas lelah setelah perjalanan yang cukup jauh.

Pukul 06.00 kami bergegas cabut dari masjid dan mencari angutan yang akan membawa kami sampai di pos pemancar, starting point pendakian GUnung Cikurai. Setelah negosiasi yang cukup a lot, akhirnya kami sepakat untuk membayar 35.000 per anak. Pertamanya sih saya ragu dengan harga yang cukup mahal bagi kalangan pendaki seperti saya. Akan tetapi setelah bertanya sama kawan pendaki lain, ternyata harganya memang segitu. Aman-aman, tidak di bohongi sama tu sopir hahaha.

Inilah angkutan yang menawarkan jasa di terminal Guntur

Bagi pendaki yang ingin membeli keperluan logistic untuk naik bisa meminta sang sopir untuk berhenti di pasar yang letaknya tidak jauh dari terminal Guntur. Disana banyak tersedia bermacam-macam sayuran, beras maupun makanan-makanan ringan. Akan tetapi karena kami sudah membawa semua keperluan logistic, kami memutuskan untuk tidak berhenti di pasar, kami langsung menuju pos pemancar.

UUUUPPSSSSSSS. Ternyata tujuan pertama kami bukan pemancar, melainkan tempat yang entah gue juga tak tau itu rumah sopirnya atau apa. Disana kami menunggu rombongan lain yang menyusul, sedangkan sang sopir tiba-tiba datang dengan mengendarai truk, tidak lagi menggunakan mobil angkot. Sekitar 1 jam kami menunggu rombongan lain untuk bergabung dalam kelompok perjalanan ini. Mulai dari sini kendaraan kami ganti dengan truk dan kamipun harus berdiri sepanjang perjalanan. Sekitar 30 pendaki berjubal dalam truk beserta carrier masing-masing. Kalian bisa bayangkan sendiri betapa sesaknya keadaan di dalam bak truk tersebut! Ditambah lagi dengan medan yang kami tempuh seperti sungai kering. BBwwwuuuhh, sungguh perjalanan yang mengesankan. Dari tempat kami berhenti berganti kendaraan tadi, untuk menuju pos pemancar, kami harus melewati luasnya perkebunan teh yang tak habis sejauh mata memandang. Di tengah-tengah perjalanan, ada pos registrasi masuk perkebunan. Setiap orang bayar 3000 rupiah dan salah-satu dari setiap rombngan harus meninggalkan fotokopi katp ataupun ktp aslinya. Setelah semuanya selesai , perjalanan dilanjutkan kembali. Jalan yang tak beraspal, sempit dan berkelok-kelok harus dilewati demi pos pemancar. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari terminal Guntur, akhirnya kami tiba juga di pos pemancar. Tepatnya sekitar pukul 09.30 WIB.

Truk yang mengantar menuju pos pemancar

Di pos pemancar kami langsung bergegas untuk memasak buat sarapan dan beristirahat melepas lelah setelah sekitar 2 jam berdiri di dalam truk. Yeeaaah, setelah cukup makan dan minum, packing yang bagus, kami siap cus untuk memulai trip kami ke puncak Cikurai. Ternyata di pos pemancar juga ada pos registrasi. Pos ini adalah pos relawan yang memantau setiap pendaki gunung Cikurai. Setiap orang dalam rombongan di data dan harus meninggalkan minimal 2 nomor hp yang aktif. Karena mereka sudah berbaik hati untuk menjaga kami selama perjalanan ke puncak, maksutnya siap untuk dimintai bantuan, kami pun harus memberi sumbangan suka rela kepada mereka. Rombongan kami yang berjumlah 8 orang memberi sumbangan 25.000 ribu, ini sebagai gambaran saja buat calon pendaki CIkurai.

Pukul 10.45 WIB kami memulai perjalanan yang tentunya akan sangat menguras tenaga. Rintangan pertama dalam pendakian gunung CIkurai adalah kebun the dan padang ilalang yang panasnya begitu mengyengat kalo di siang hari. Debu serta keringat berkumpul jadi satu di wajah serta baju kami. Jalanan yang menanjak curam membuat perjalanan dalam melewati medan ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena ada suatu halangan, perjalanan kami menuju pos 1 agak tersendat. Estimasi kami meleset, kami sampai di pos 1 pukul 12.36 WIB. Sekitar 20 meter sebelum pos 1 terdapat sumber air yang berasal dari pipa yang bocor. Disitu kami bisa berwudhu dan mengisi botol yang sudah kosong. Akan tetapi jangan mengandalkan sumber air ini untuk mengisi perbekalan anda. Belum tentu pipa ai ini bocor waktu anda naik, siapa tau sudah diperbaiki oleh warga.



Kebun teh, gerbang pendakian Cikurai

Sesampainya di pos 1, kami sholat dhuhur yang dijamak kosor dengan sholat asar. Pos satu sebenernya gak begitu luas sih, tetapi karena kami rombongan terakhir yang naik Cikurai jadinya pos ini sepi. Setelah sholat dan istirahat selama 30 menit kami langsung melanjutkan perjalanan kami. Perjalanan menuju pos 2 sama menanjaknya seperti menuju pos 1, bedanya cuma tidak ada lagi padang ilalang sepanjang perjalanan.

Memasuki hutan

Pukul 13.37 WIB akhirnya kami sampai di pos 2. Pos 2 luasnya tidak jauh dari pada pos 1. Hanya saja pos 2 permukaan tanahnya lebih rata daripada pos 1 tadi. Mengingat waktu sudah hamper pukul 2 sedangkan perjalanan masih jauh, kami tak lama istirahat di pos 2.

Jarak pos 2 ke pos 3 merupakan jarak pos ter panjang dari jarak pos-pos lainnya. Dengan jalan yang sama dengan yang sebelum-sebelumnya, tidak ada bonus. Setelah sekian lama berjalan akhirnya kami sampai juga di pos 3 pukul 15.05 WIB. Area pos 3 cukup luas dan rata. Cocok untuk lama-lama beristirahat. Mengingat perjalanan pos 3 menuju pos 4 setelah ini merupakan rute terberat, kami pun beristirahat cukup lama disini, 25 menit.
Melepas lelah di pos 3
Oke, perjalanan kami lanjutkan kembali. Medan yang berat, tanjakan yang curam dan tinggi semakin menguras stamina dan daya tahan kami. Tak sampai 100 meter kami berjalan, kami sudah istirahat mengambil nafas. Pukul 16.00 akhirnya kami tiba juga di pos 4.
Waktu terus berjalan. Matahari sudah malu-malu menampakkan cahayanya. Kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 5. Mulai darisini rombongan kami terbagi menjadi dua. Dua orang pembawa tenda berjalan duluan untuk mengetag tempat buat kami bermalam. Mengingat jumlah pendaki pada hari itu hampir mencapai 100 orang, saya takut kalau kami gak dapet tempat nge-camp yang strategis. Jarak pos 4 ke pos 5 menurut saya jarak yang paling dekat dibandingkan jarak antar pos yang lainnya. Karena ada suatu hal, kami terpaksa jalan melambat. Mengingat stamina yang mulai menipis dan badan yang sudah tak tahan menahan beban di bahu. Pukul 16.20 akhirnya kami tiba juga di pos 5.

Medan menuju pos 5


Setelah istirahat 10 menit kami melanjutkan perjalanan kami. Karena ada teman kami yang sudah berada pada limitnya, akhirnya 3 teman kami yang lainnya pergi duluan menuju pos 6 menuyusul 2 orang yang sudah di depan. Sekarang tinggal 3 orang berada di rombongan paling belang. Aku, bersama 2 teman. Perjalanan menuju pos 6 terasa sangat lambat. Berjalan sambil menunggu teman yang sudah tak sanggup lagi berjalan sungguh menguji kesabaran kami. Langit semakin menggelap, dan kami pun tak kunjung mendapatkan petunjuk bahwa kami sebentar lagi tiba di pos 6. Dengan sangat sabar, aku bersama satu temanku membimbing dan menemani temanku satunya lagi yang berdiripun susah, apalagi berjalan. Sungguh perjalanan yang dramatis. Akhirnya pukul 17.30 kami semua, rombongan Batakyon 36, ber 8 sudah tiba di tenda.

Ketika saya bersama 2 teman lainnya tiba di camp, ternyata 5 teman yang sudah naik duluan sedang masak buat makan malam kami. Menu special: mie goring, oseng-oseng labu + wortel + nasi sudah lebih dari cukup untuk mengganjal perut kami yang sudah keroncongan dari tadi. Tak lupa setelah makan malam kamipun shalat maghrib yang dijamak dengan shalat isya. Setelah beres-beres sekitar tenda dan bekas masak, kami meluangkan waktu untuk kumpul dan bercanda dengan tema yang sederhana. Pukul 20.30 kami bersiap untuk tidur, istirahat sebelum esok dini hari pukul 03.00 summit attack. Oia, malam  itu kebetulan sedang ada moster moon. Bulan tampak besar bulat berada di atas kepala kami. Sinar yang dipatulkannya membuat malam kami di gunung Cikurai lebih terang dan tampak lebih berkesan.

Kondisi pos 6, tempat kami camp
Tepat pukul 03.00 alarm berbunyi, kami pun bergegas bangun langsung mempersiapkan apa yang kami butuhkan untuk summit attack ditengah dingin angina + udara dingin khas gunung yang menusuk tulang. Dengan berdoa terlebih dahulu kami mulai bergerak dari pos 6 dengan membawa 3 tas carrier sebagai tempat barang keperluan logistic dan alat masak, sedangkan tenda dan barang-barang lain ditinggal di dalam tenda. Seperti energy yang sudah 100% ter-charge lagi, kami berjalan cepat menuju puncak cikurai, berkejaran dengan sang fajar yang segera menyingsing di ufuk timur cakrawala. Medan yang harus kami lewati tetap berat, tanjakan yang curam dan tanjakan-tanjakan tinggi membuat kami agak kesulitan dalam perjalanan ini. Untungnya ke-3 cewe di rombongan tidak lagi membawa carrier, jadinya mereka tak terlalu berat melewati sisa jalan menuju puncak.

Pukul 04.37 kami tiba di pos 7, pos terakhir sebelum puncak. Tak perlu waktu lama dari pos 7 untuk sampai di puncak. Kami hanya butuh 8 menit untuk sampai di puncak, tepatnya pukul 04.45 WIB. Alhamdulillah, kami tiba di puncak sebelum fajar menyingsing. Rembulan masih gagak menampakkan wujudnya di ufuk barat, malu-malu dengan gelegat wujud sang mentari yang akan menampakkan kegagahannya di bumi Cikurai. Beberapa menit setelah kami tiba di puncak, tiba saatnya untuk berfoto-foto ria dengan background sun rise Cikurai. Pemandangan Gunung Ciremai dan Gunung Slamet yang berdiri gagah di sebelah timur dan masih banyak lagi gunung yang gagah mengitari Gunung Cikurai membuat pesona Puncak Cikurai tak kan pernah pupus. Selalu membuat decak kagum para pendaki. Sebagai bayaran yang pas atas perjuangannya menakhlukkan terjalnya gunung bertinggi 2818 mdpl.
Subhanallah, tiada sekutu bagi-Mu. Aku bersaksi atas segala ciptaan-Mu. Tiada Tuhan selain Engkau. Engkaulah Tuhan pencipta kehidupan, electron berputar mengelilingi proton dan neutron. Bumi beserta 8 planet lainnya berputar mengelilingi matahari. Semua ini tiada lain adalah kekuasaan-Mu.

Saat subuh menjelang, langit yang indah
Subuh yang indah. Sholat Subuh di puncak cikurai diwarnai dengan warna merah campur nila campur kunung. Entahlah warna apa itu. Pokoknya sungguh indah subuh  waktu itu. Setelah puas berfoto ria, kamipun bergegas masak untuk sarapan. Seperti biasa, menunya adalah mie goreng telur. Gak tanggung-tanggung, kurang lebih 6 mie goreng, 3 mie rebus dan 3 telur dimasak buat sarapan kami. Kenyang betul pagi itu hahaha.

Formasi 8
Oia, keadaan puncak Cikurai waktu itu sangatlah ramai. Tenda-tenda bertebaran di berbagai sudut puncak. Lebih dari 7 tenda berada tepat di puncak, dan masih banyak tenda lagi ang berada sedikit di bawah puncak. Sungguh ramai puncak Cikurai pagi itu.

Pukul 09.00 kami memutuskan untuk turun, kembali ke pos 6 untuk berkemas-kemas sebelum kami kesiangan. Pukul 10.00 kami sudah tiba di pos 6. Tak butuh waktu lama untuk kami ber packing. Pukul 10.30 kami memulai perjalanan turun dari pos 6.

Pukul 12.30 akhirnya kami sampai di pos pemancar. Alhamdulillah tanpa banyak halangan kami berhasil menakhlukkan gunung CIkurai. Mengingat ini adalah pendakian pertama bagi beberapa teman saya, banyak kenangan yang tertulis di pendakian ini. Semoga pendakian ini sebagai awal dari rangkaian petualangan hidup mereka dalam mencari jati diri dan makna kehidupan.

14.00. Dengan menyewa mobil pick-up angkutan khusus pendaki Cikurai, dengan bayar 35.000 rupiah kami meninggalkan pos pemancar menuju terminal Guntur. Hanya lambaian tangan dan tatapan syahdu dan bangga, itulah yang hanya bisa kami lakukan untuk mengucapkan selamat itnggal Cikurai, tunggu lain waktu untuk berkunjung di tanahmu lagi.

Setelah makan, kami mencari bus jurusan Pasar Rebo. Pukul 16.45 kami akhirnya telah berada dalam bus ber AC. Dengan bayar 35.000 kami leluasa untuk tidur melepas lelah. Pukul 23.00 kami tiba di Pasar Rebo. Kami langsung naik angkot 06 menuju Kampung Melayu. Pukul 00.15 akhirnya kami sudah berada di kontrakan/kos masing-masing dengan selamat.

Total biaya per orang sekitar 195.000 per orang sudah termasuk 1x makan di warung makan.








Reaksi: